Sabtu, 22 Agustus 2015

Cermin



https://sourandsugar.wordpress.com/2013/01/01/resume-muhasabah-akhir-tahun-aa-gym/cermin-diri/
 sumber gambar : https://sourandsugar.wordpress.com/2013/01/01/resume-muhasabah-akhir-tahun-aa-gym/cermin-diri/


Aku hanya mampu duduk dan menatap pilu sosok itu. Bibirku terkatup rapat dan air mataku meleleh perlahan. Gadis cantik berambut panjang yang mengenakan seragam putih abu-abu. Jari telunjuk dan jari tengahnya mengapit tembakau yang di sulut ujungnya. Sesekali dia menyesapnya dan mengembuskan asap dari bibir tipisnya.
                Hatiku getir ketika melihat seorang wanita paruh baya berteriak histeris ke arah gadis itu, “berhentilah melakukan hal biadab itu!”
                Si gadis hanya tersenyum sinis dan malah berjalan menghampiri wanita itu dan mengembuskan asap di hadapannya kemudian berlalu begitu saja. Sontak sang wanita paruh baya terbatuk-batuk. Satu tangannya mengusap air mata yang meleleh di pipinya dan tangan yang lain mengelus dadanya, “Duh, Gusti, kuatkanlah hambamu ini.”
                Malam semakin larut tapi si gadis belum terlihat batang hidungnya. Wanita paruh baya itu kini mengenakan daster bermotif bunga berwarna jingga. Dia berjalan mondar-mandir di teras rumahnya. Wajahnya terlihat penuh kekhawatiran. Dia tengah menunggu. Menunggu si gadis, putri tunggalnya.
                Sudah hampir tengah malam membuat wanita paruh baya itu semakin gelisah. Jemarinya tak henti memencet tombol ponsel yang di genggambanya. Dalam cahaya remang dia berusaha menghubungi teman-teman si gadis untuk menanyakan keberadaannya dan hasilnya nihil. Wajah keriputnya semakin tampak berkerut. Pertahanannya mulai runtuh, “Duh, Gusti, ampunilah hamba yang tidak mampu menjaga amanah-Mu. Hamba sudah tidak sanggup, hamba serahkan putri hamba kepada-Mu.” Air mata mulai meleleh dari pelupuk matanya.
                Wanita itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, menutup pintunya dan duduk di sofa ruang tamu. Dia tetap berusaha walaupun kantuk akhirnya melemahkannya. Dia tidur dalam posisi duduk dengan sejuta kekhawatiran yang berjubel di benaknya. Kira-kira pukul empat dini hari, ponselnya berdering. Ada nomor tidak dikenal tampak di layarnya. Tanpa pikir panjang dia pun meraih ponselnya dan memencet tombol hijau,
“Halo, Assala-“
“Mamaa..” terdengar suara lemah dan bergetar dari ujung telepon.
“Shinta? Apa ini benar kamu, Nak? Kamu di mana?” Antara percaya dan tidak, sedih dan bahagia, khawatir dan lega, wanita itu mengajukan banyak pertanyaan kepada si gadis.
“Maa, tolong... aku di seko-“ suara itu terputus dan berganti dengan suara jeritan.
“Shinta? Halo, Nak?” Telepon terputus. Jantungnya kini berdegub kencang. Tanpa berpikir panjang wanita itu bergegas menuju sekolah Shinta. Dia hanya menyambar jaket lusuh berwarna coklat miliknya kemudian mengendarai sepedanya.
                Sesampainya di sekolah Shinta, wanita itu segera berlari dan memanggil-manggil putrinya, “Shintaa.. Shintaa...” lama sampai dia melewati sebuah ruangan yang tampak seperti gudang. Dia mendengar suara lemah merintih. Dia pun segera memasuki ruangan itu dan menyalakan saklar lampu yang terletak di balik pintu.
                Bagai di sambar petir wanita itu terduduk lemas dan air matanya meleleh. Mulutnya tak sanggup berucap. Dia mendapati putrinya tergeletak dengan pakaian tak lengkap. Banyak luka sundutan rokok di sekitar dada dan paha si gadis. Rambutnya acak-acakan. Beberapa bagian tubuhnya pun lebam-lebam.
                Aku menutup mataku. Air mataku terus meleleh tanpa henti. Aku hanya mampu diam sampai seorang wanita paruh baya menghampiriku dan menyentuh pundakku, “Sudah ya, Nak, jangan terus menerus menangisi masa lalu. Kamu harus kuat dan berjuang demi janin di rahimmu sekarang.” Lalu wanita itu mendorong kursi rodaku menjauhi cermin.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar